Friday, March 7, 2014

How to be a War Journalist

Pekerjaan yang memiliki bobot besar, menantang, dan harus memiliki modal kuat baik dalam fisik, mental maupun skill jurnalistik yang baik, harus dimiliki oleh salah satu profesi jurnalis yang bernama war journalist. Selain itu, pengambilan momen dan keberanian untuk meliput sebuah peristiwa juga akan dibahas disini berikut tips dan triknya.
Alasan mengambil tema ini adalah banyak orang yang mengetahui peristiwa yang notabene adalah perang ataupun konflik, namun tidak mengetahui siapa dibalik peliputan peristiwa penting tersebut. Padahal bila ditelusuri wartawan perang banyak yang mendapatkan penghargaan-penghargaan bergengsi baik di kancah lokal maupun internasional salah satunya adalah Pullitzer Prizes.

Selain itu jurnalis perang pada umumnya juga memiliki mental yang cukup kuat, karena hidup mereka selalu terancam setiap harinya apabila meliput di daerah konflik. Dilemma yang berkepanjangan selalu saja terjadi, mengingat banyak diantara mereka yang masih memiliki anak istri untuk dicukupi kebutuhannya, namun mereka selalu menepis hal itu dan mengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat dengan meliput dan memberitakan informasi lebih penting, karena jurnalis tugasnya adalah mengabdi untuk masyarakat. Oleh sebab itu beberapa media mengutus jurnalis terbaiknya untuk meliput konflik dan diharapkan dapat membawa hasil yang memuaskan sehingga berita tersebut dapat memiliki kualitas yang tinggi karena momen momen berharga banyak didapat dari kejadian yang notabene adalah perang, baik dari segi kemanusiaan, sudut pandang pemberontak, bahkan kerugian yang dialami oleh kedua belah pihak yang terlibat perang baik dari nyawa maupun kerugian secara material.

Inti dari war journalism yang diemban oleh war journalist itu sendiri adalah menginspirasi orang lain untuk turut bersimpati terhadap peristiwa yang terjadi. Bukan malah menambah provokasi dari satu pihak sehingga situasi menjadi semakin memanas, melainkan dari sudut pandang kerugian yang ditimbulkan oleh peperangan itu sendiri, jika bisa lewat jalan diplomasi mengapa harus lewat konflik/perang yang nyatanya merugikan baik korban nyawa, hancurnya infrastruktur, bahkan dari sisi psikologis korban perang itu sendiri seperti trauma jangka panjang dsb.


Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Hari / Tanggal : Senin , 28 April 2014
Waktu : 13.00 WIB
Tempat : Lecture Hall (Gedung C Lt 3) Universitas Multimedia Nusantara, Gading Serpong Tangerang


Pembicara
1.      Qaris Tajudin (Jurnalis Tempo)*
2.      Basuki (Fotografer Tempo)*
3.      Andi Riccardi Djatmiko (kepala biro Associated Pers Television News (APTN) Jakarta)*

(*) dalam tahap konfirmasi

@commpressumn dan @imkom_umn

No comments:

Post a Comment