Pekerjaan
yang memiliki bobot besar, menantang, dan harus memiliki modal kuat baik dalam
fisik, mental maupun skill jurnalistik yang baik, harus dimiliki oleh
salah satu profesi jurnalis yang bernama war journalist. Selain itu, pengambilan
momen dan keberanian untuk meliput sebuah peristiwa juga akan dibahas disini
berikut tips dan triknya.
Alasan mengambil tema ini adalah
banyak orang yang mengetahui peristiwa yang notabene adalah perang ataupun
konflik, namun tidak mengetahui siapa dibalik peliputan peristiwa penting
tersebut. Padahal bila ditelusuri wartawan perang banyak yang mendapatkan
penghargaan-penghargaan bergengsi baik di kancah lokal maupun internasional
salah satunya adalah Pullitzer Prizes.
Selain itu jurnalis perang pada
umumnya juga memiliki mental yang cukup kuat, karena hidup mereka selalu
terancam setiap harinya apabila meliput di daerah konflik. Dilemma yang
berkepanjangan selalu saja terjadi, mengingat banyak diantara mereka yang masih
memiliki anak istri untuk dicukupi kebutuhannya, namun mereka selalu menepis
hal itu dan mengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat dengan meliput dan
memberitakan informasi lebih penting, karena jurnalis tugasnya adalah mengabdi
untuk masyarakat. Oleh sebab itu beberapa media mengutus jurnalis terbaiknya
untuk meliput konflik dan diharapkan dapat membawa hasil yang memuaskan
sehingga berita tersebut dapat memiliki kualitas yang tinggi karena momen momen
berharga banyak didapat dari kejadian yang notabene adalah perang, baik dari
segi kemanusiaan, sudut pandang pemberontak, bahkan kerugian yang dialami oleh
kedua belah pihak yang terlibat perang baik dari nyawa maupun kerugian secara
material.
Inti dari war journalism
yang diemban oleh war journalist itu sendiri adalah menginspirasi orang
lain untuk turut bersimpati terhadap peristiwa yang terjadi. Bukan malah
menambah provokasi dari satu pihak sehingga situasi menjadi semakin memanas,
melainkan dari sudut pandang kerugian yang ditimbulkan oleh peperangan itu
sendiri, jika bisa lewat jalan diplomasi mengapa harus lewat konflik/perang
yang nyatanya merugikan baik korban nyawa, hancurnya infrastruktur, bahkan dari
sisi psikologis korban perang itu sendiri seperti trauma jangka panjang dsb.
Waktu
dan Tempat Pelaksanaan
Hari / Tanggal : Senin , 28 April 2014
Waktu : 13.00 WIB
Tempat : Lecture Hall (Gedung C Lt 3) Universitas
Multimedia Nusantara, Gading Serpong Tangerang
Pembicara
1. Qaris
Tajudin (Jurnalis Tempo)*
2. Basuki
(Fotografer Tempo)*
3. Andi
Riccardi Djatmiko (kepala biro Associated Pers Television News (APTN) Jakarta)*
(*) dalam tahap konfirmasi
@commpressumn dan @imkom_umn